Hal yang Tak Bisa Disembuhkan, Tapi Bisa Diterima
Hal yang Tak Bisa Disembuhkan, Tapi Bisa Diterima
---
### Hal yang Tak Bisa Disembuhkan, Tapi Bisa Diterima
Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Luka yang sudah lama mengering, tapi tetap meninggalkan bekas samar di hati.
Rasa kehilangan yang tidak hilang, hanya menjadi lebih tenang seiring waktu.
Dan kenangan yang masih sesekali datang tanpa diundang—mengingatkan kita bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki.
Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa waktu menyembuhkan segalanya.
Tapi waktu bukan obat, ia hanya ruang.
Ruang untuk belajar berdamai, bukan melupakan.
Ruang untuk memahami bahwa tidak semua yang rusak harus diperbaiki agar kita bisa hidup lagi.
Terkadang, cukup dengan menerimanya apa adanya.
Menerima bukan berarti menyerah.
Menerima berarti kita berhenti melawan kenyataan,
dan mulai merangkulnya sebagai bagian dari diri kita yang baru.
Luka itu mungkin tetap ada—seperti bekas luka di kulit—tapi ia tidak lagi menyakitkan setiap kali disentuh.
Ia menjadi bagian dari kisah yang membentuk siapa kita hari ini.
Ada hal yang tak bisa disembuhkan oleh siapa pun.
Tidak oleh cinta, tidak oleh waktu, tidak oleh kata-kata manis.
Tapi bisa diterima dengan keheningan, dengan napas yang lebih dalam, dengan keberanian untuk tetap hidup meski hati pernah hancur.
Kita tidak harus sempurna untuk bisa tenang.
Kita hanya perlu jujur: bahwa beberapa bagian dari diri kita memang rusak,
dan itu tidak apa-apa.
Karena dari sanalah cahaya bisa masuk—melalui retakan yang tidak bisa disembuhkan, tapi bisa diterima.
---
Post a Comment for "Hal yang Tak Bisa Disembuhkan, Tapi Bisa Diterima"